Thursday, November 27, 2014

SUARA YANG DIPADU MENJADI CANDU



Banyak bulan, hari, jam , menit bahkan detik yang sudah tak bisa kuhitung. Namun perjalanan hidup yang masih panjang takkan mampu membuatku lupa. Takkan mampu menghapuskan jejak rekaman yang pernah diperdendangkan dalam ingatan.
 
Sesekali waktu biarkanlah aku mengingatnya kembali. Tentang sebuah hangatnya kebersamaan. Tentang lenggak-lenggok tubuh atau lirikan mata yang mengikuti sebuah alunan nada. Tentang empat jenis suara yang dipadukan jadi satu kesatuan warna. Tentang riuhnya tepuk tangan serta aroma kepuasan sebuah kemenangan. Atau bahkan hanya sekedar ingin merasakan debar-debar jantung yang membuat candu dalam setiap pagelaran.

Sesekali waktu biarkanlah hidup ini serupa paduan suara. Belajar memberikan yang terbaik, belajar menjadi sempurna dalam segala suasana. Berdiri tegap di depan para juri atau para penonton, sekadar melempar senyum hangat sejenak melupakan segala kegundahan yang ada. Menyelaraskan suara di tengah keberagaman yang ada. Belajar berlapang dada, meskipun rasa kecewa ada. Menggenggam rasa yakin pasti bisa demi sebuah penampilan yang luar biasa.

Ketahuilah, sebab kegiatan yang kian menderas dalam hidup, tak membuat sebuah kenangan kan bertahan lama. Sebab kan ada waktunya lidah kelu menceritakan sebuah kisah masa lalu.  Aku hanya berharap ketika rambutmu mulai memutih, ketika sepasang matamu mulai merabun, ketika ingatanmu mulai meraba-raba karena pikun; akan ada tentangmu tentangku tentang kita yang ditulis sejarah.

Ketahuilah, barangkali waktu yang berputar ialah keganjilan yang tak selalu digenapkan oleh sebuah hangatnya kehadiran. Barangkali waktu yang berjalan, ialah keganjilan yang tak pernah digenapkan oleh sebuah kebersamaan yang berlangsung lama. 

Dibanding rumah megah namun sunyi,
Kebersamaan ini lebih mewah  dan berbunyi





Malang, 26 November 2014
© 2014 by W.U. Widiarsa. All rights reserved

Sunday, June 15, 2014

Permainan yang Tak Selesai

Banyak cara untuk bersenang-senang dalam bersahabat. Kita hanya perlu mencari hal-hal yang kita anggap paling layak untuk kita mainkan bersama-sama. Aku punya cara sendiri untuk menikmatinya dengan sahabatku. Kau ingin tahu? Baiklah kini akan kuceritakan padamu satu permainan yang sering kulakukan bersama sahabatku; Reno sebelas tahun lalu.
Kami tinggal di pinggiran Kota, jauh dari hingar kendaraan yang lalu-lalang tanpa kenal waktu. Butuh dua puluh langkah ke timur dari rumahku, untuk sampai di rumah Reno. Usia kami masih 13 tahun waktu itu. Kami adalah sahabat akrab, baik di sekolah maupun di rumah. Di kampung, kami terlihat seperti saudara kandung. Bagaimana tidak, kami bak pepatah dimana ada gula di situ pasti ada semut. Tak jarang kami juga tidur bersama, entah itu di rumahnya atau di rumahku. Orang tuaku tak pernah keberatan ketika Reno sering menginap di rumahku, begitu pun sebaliknya. Aku adalah anak tunggal, sedangkan Reno memiliki seorang kakak perempuan yang waktu itu sedang menyelesaikan bangku perkuliahannya di Kota. Bisa dibilang kami senasib, kami saling membutuhkan satu sama lain. Kami akan saling merindukan dan kesepian kala liburan Hari Raya Idul Fitri menjemput, karena aku harus ikut Bapak dan Ibu mengunjungi Nenek yang ada di dalam pelosok Desa.
Seperti biasanya setelah pelajaran sekolah usai; pukul 12.45, kami kayuh sepeda kami. Ya, kami sering melakukannya, kami beradu cepat sampai di depan rumahku. Kau pasti sedang bertanya-tanya, apa temanku hanya Reno seorang? Tidak, tentu kau tahu. Tapi harus kukatakan padamu, aku adalah anak yang pemilih. Tak sembarang anak bisa bermain denganku, jika aku merasa tak nyaman maka aku akan menjauh pergi. Kau pasti tahu, kau pasti pernah melihat bocah-bocah pinggir Kota, dengan pakaian-pakain apa adanya, dengan wajah-wajah kumal akibat seharian bermain di ganasnya terik mentari siang. Belum lagi mulut-mulut mereka yang menggonggong liar tanpa aturan, itu yang membuatku malas bergaul dengan mereka. Meski aku juga anak pinggiran, tapi aku dididik dengan keras oleh Bapak dan Ibu yang mengutamakan sopan santun dan tata krama. Berbeda lagi dengan Reno. Reno adalah anak orang berada, namun kedua orang tuanya mengajarkannya kesederhanaan. Itulah alasan aku memilih Reno sebagai sahabatku, dan orang tua kami pun juga tidak keberatan kami bersahabat.
Sore itu sehabis kami mengerjakan PR bersama-sama di rumah Reno, seperti biasanya kami bermain mencari harta karun. Reno yang pertama kali memiliki ide permainan ini. Kali ini giliranku yang harus mengisi aqua-aqua bekas dengan sepucuk kertas, yang berisikan sebuah petunjuk yang bisa berupa clue atau penunjuk arah, dimana  harta karun itu berada. Pertama-tama aku harus menyembunyikan harta karun - kotak kayu, yang di dalamnya terisi penuh oleh kelereng berwarna-warni. Sebuah tumpukan kardus-kardus bekas yang ada di belakang rumahku jatuh sebagai pilihanku. Sementara itu Reno harus berdiam diri di dalam kamarnya, sembari menungguku selesai menempatkan lima aqua sesuai dengan posisi penunjuk arah yang kutulis sebelumnya.
“Sudah,” teriakku dari luar rumah Reno.
“Lama banget nyembunyiin gitu aja,” sahutnya sambil berjalan menghampiriku.
“Biar kamu nggak dapet harta karunnya,” jawabku sambil terkekeh.
“Pertama-tama kamu harus jalan ke belakang rumahmu, cari satu pohon yang daunnya sering dibuat bungkus makanan atau beberapa jajanan pasar dan buahnya adalah makanan kesukaan saudaramu. Di sana kutaruh botol aqua pertama,” aku tertawa terbahak-bahak, sejadi-jadinya mendengar Reno menggerutu sendiri karena ledekanku.
Sudah hampir satu jam, aku menunggu di teras rumahnya. Reno masih belum nampak juga batang hidungnya. Aku mulai cemas. Aku hanya takut kalau-kalau aku salah, aku berpikir apa dia benar-benar marah karena aku meledek bahwa monyet adalah saudaranya. Tak mungkin. Kau tahu, Reno adalah anak yang paling baik dan tidak pernah marah ; terutama padaku. Reno sudah serupa kakak untukku, dia selalu berusaha melindungiku, mengajariku, memperhatikanku dan tak pernah jauh dariku. Kuputuskan menyusulnya ke kebun belakang rumah, memastikan bahwa dia masih ada disana – mencari botol-botol aqua yang kusembunyikan.
Betul seperti dugaanku, dia takkan marah dan meninggalkanku. Reno masih di sana, namun beda dengan harapanku. Keringat-keringat dingin sebesar biji jagung mulai jatuh dari ubun-ubunku. Degup jantungku yang tadinya bertempo lambat,  harus berubah menjadi detak yang tak karuan – tak berirama. Dalam dadaku serasa ada sekumpulan bocah yang tadinya ingin menyalakan api unggun, namun kini jadi kobaran api yang menyambar-nyambar, dan kepulan asapnya – menyesakkan dada.  Mataku nanar. Entahlah, aku tak mengerti perasaan apa ini. Sebelumnya tak pernah seperti ini. Aku melihatnya bersama anak lain, teman kami satu kelas juga di Sekolah. Kau tahu, aku tak suka anak itu – Buyung. Dia yang sering mengejek ibuku mandul, tak bisa melahirkan anak lagi. Dia yang juga sering menggangguku di kelas; menyembunyikan buku PRku misalnya, melempariku dengan kertas atau  penghapus karet, kadang juga mengempesi ban sepedaku. Aku membencinya.
Aku melihat Reno dengan lincahnya sedang memanjat pohon mahoni. Dia sedang mengambil layangan milik Buyung yang tersangkut di atas sana. Dengan badannya yang tambun, tentu saja Buyung takkan mampu memanjat pohon mahoni yang cukup besar dan tinggi. Aku benci melihat adegan itu. Permainan kami harus terhenti hanya karena Reno harus membantu Buyung mengambil layangannya. Bukankah seharusnya Reno tahu, untuk apa menolong Buyung – anak yang selama ini sering menyakiti perasaanku.
Kuceritakan padamu, semenjak kejadian itu, aku lebih memilih untuk diam dan menyendiri. Perlahan-lahan aku mulai menjauh dari Reno. Kau tahu apa yang terjadi? Reno lebih akrab dengan Buyung sekarang.  Entahlah, itu mungkin perasaanku saja; atau karena salahku sendiri menjauhinya. Tiap kali aku melihat dari balik jendela, mereka berdua nampak bersuka ria, tertawa riang sambil menerbangkan layang-layang. Apa Reno bosan bermain denganku? Apa Reno bosan bermain menemukan harta karun lagi? Aku hanya merasakan, ada sebongkah batu besar yang dilempar keras tepat di dadaku. Sakit. Aku hanya bisa membiarkan air mataku menggenang di sudut-sudut mataku, ia tak mau jatuh. Aku tak paham, perasaan apa ini.
Aku menghela napas panjang.
Kutuliskan cerita ini untukmu. Dari sebuah kamar yang sempit dan usang, di pusat Kota. Sore itu, tepat satu minggu setelah permainan mencari harta karun yang tak selesai. Aku menunggu Reno sepulang sekolah, di belakang rumahku, di samping tumpukan kardus-kardus tempat dimana aku menyembunyikan kotak kayu yang terisi penuh oleh kelereng warna-warni. Kami berjanji akan bertemu di sini. Sembari menunggunya, aku menjalankan perintah Ibu; menyapu kebun belakang yang penuh daun-daun dan ranting kering, kemudian membakarnya bersama sampah-sampah kering lainnya.
“Ini harta karunnya. Kau gagal,” kusodorkan kotak kayu itu.
“Maaf. Waktu itu bukannya aku lupa, tapi adzan maghrib sudah berkumandang. Aku mencarimu, tapi kau tak ada,” jawabnya dengan suara penyesalan.
“Sudahlah lupakan. Selama satu minggu ini kamu kemana aja? Kamu lupa denganku? Kamu malah asik bermain layangan dengan Buyung. Kamu bosan bermain mencari harta karun?” aku memberondongnya dengan beberapa pertanyaan.
“Aku mencarimu, tapi ibumu selalu bilang jika tidak sedang tidur, ya sedang tidak enak badan.”
“Aku ingat, kamu dulu pernah berjanji takkan meninggalkanku. Kamu janji kita akan selalu bersama. Kamu tahu, aku nyaman di sampingmu. Aku tak ingin kehilanganmu. Aku benci melihatmu bersama Buyung. Aku ingin kamu hanya untuk aku. ” teriakku parau, menahan agar air mataku yang pemalu tak berlinangan.
Aku mendaratkan ciuman tepat di pipinya, sembari melingkarkan kedua tanganku di balik punggungnya.
“Damar! Apa yang kamu lakukan?” Reno mendorongku hingga jatuh.
“Kamu masih waras?”
Kurasakan sakit yang begitu dalam sore itu. Kuputuskan mulai saat itu, aku benar-benar membenci Reno. Aku tak ingin melihatnya lagi. Aku membencinya.
Masih dari sebuah rumah pusat rehabilitasi, kutuliskan cerita ini untukmu. Aku menuliskannya untukmu, agar kau tahu kisah yang sebenarnya. Kisah yang sebenarnya ingin kusimpan sendiri, hanya saja aku tak ingin kau tahu kisahku ini dari koran-koran yang ditulis para kuli tinta. Mereka yang membesar-besarkan masalahnya, dengan sengaja mengurangi detail-detail tiap ceritanya, atau seakan-akan mereka tahu semua kejadiannya. Seperti sebelas tahun lalu; di beberapa koran - ceritaku dimuat di halaman depan, diberi judul yang menggemparkan, dicetak dengan huruf-huruf tebal. Tentu kau pun sudah membacanya bukan; “Seorang Bocah Tega Membakar Sahabatnya Sendiri” atau “Karena Cemburu Seorang Bocah Bakar Sahabatnya”.



 #OWOPwc
@oneweekonepaper
Posted on by Unknown | 2 comments

Sunday, May 25, 2014

Balada Mair

Di sana ia berdiri, tegap, enggan tuk beranjak pergi
Tatap! Ia serupa benteng kokoh tak tertandingi
Ia takkan pernah sekali pun terjaga
Matanya awas, mengintai semua yang bernyawa
Sorot matanya tajam merah nyala
Begitu lekat seraya menghina
“Datang, lawanlah! Jika bisa.” katanya

Wangi-wangi mawar dan melati begitu ramah tuk cumbui
Nyala lilin-lilin kecil dan kepulan asap dupa membasuh diri
Ia selalu sembunyi, berselimut dalam tabir binar-binar dunia
Perihal kedatangannya,
Siapa sangka? Siapa mengerti?
Bahkan kadang ada yang tak peduli,
Justru menghampiri, justru mendekati

Dalam sekejap mata ia ada
Dalam tiap hembus nafas ia menghantui
Dalam gelapnya bayang ia tertawa sekeras ia bisa
Perihal waktu, cepat atau lambat
Perihal harta, miskin atau kaya
Perihal pria, wanita, duka atau pun suka
Ia takkan pernah sekalipun peduli
“Lewati aku jika kau mampu!” tantangnya

Dijulurkannya jemari-jemari lembutnya,
Menyambut setiap kedatangan yang sudah lama ia nanti
Menjabat hangat layaknya kawan akrab yang lama tak bersua
Senyum liciknya begitu puas tuk menggerayangi
Bak fatamorgana dekapannya menggoda tuk dinikmati

Mengapa harus ada segumpal tanah merah yang ditaburi?
Apa kelopak bunga yang cantik nan wangi sudah kehilangan jati diri?
Mengapa denyut nadi harus terhenti?
Apa mereka sudah menguap jadi derai air mata di luar sana?
Apa air mata kini sudah tak berdaya lagi?

Kini air mata tak punya arti lagi
Air mata bukan lagi layaknya kisah di Negeri mimpi.
Yang pergi takkan bisa kembali
Yang mati tak hidup lagi
Yang hidup tetap saja tak kekal abadi
Ia hanya jadi saksi, meratapi setiap kejadian yang tak pernah diingini
Ia hanya jadi makna luka, saat lidah tak lagi mampu berkata-kata

Kepada mati yang tak pernah kumengerti
Kepada mati yang tak pernah kuingini
Aku adalah nafas yang dipinjami

Aku adalah yang berasal dari tanah dan harus kembali


Malang, 17 Maret 2014


© 2014 by W.U. Widiarsa. All rights reserved

Saturday, May 17, 2014

Menanti Senja di Sepasang Mata yang Menua

Alkisah ini adalah puisi cinta yang biasa
Tentang sebuah rasa yang kupuja
Selayaknya mantra untuk menuai bahagia
Semua sama, tak ada yang beda,
pun dengan aksara yang kukumpulkan dengan  warna-warni cinta di dalamnya
Kata yang kurangkai dengan romansa  rindu ingin bersua

Tangkaplah warna jingga di mataku hai Pujangga
Bukankah di senja itu yang kau namai “kita” ?
Lewatkan sepasang matamu itu di tikungan bibirku
Bukankah senyum itu yang pernah cumbui tiap sudut anganmu?
Tapi kala mentari menyingsing
Kala langit mulai merias diri, hingga tubuhku tak lagi tegap berdiri
Adakah kau kembali untuk kutemui?

Akulah sang empunya cerita cinta
Perempuan yang dulu selalu kau puja tiada dua
Perempuan yang menanti segumpal rasa hingga renta
Perempuan yang kini tinggal menggenggam geram putus asa
Sungguh, akulah dia...
Perempuan yang paling setia
Akulah perempuan yang kini memilih menyimpan seribu bahasa tanpa suatu nada
Ribuan bahkan jutaan aksara kubungkam dalam rahasia
Sedang kecewaku berkobar menyala, menjilat semua rasa yang kurasa sia-sia
Sungguh rindu yang percuma
Sungguh cerita cinta yang takkan pernah sempurna

Tanyakan langit di gelap malam!
Adakah perihal lain, yang lebih indah dari kesetiaan rembulan dan bintang-bintang,
yang berbinar tanpa penyesalan?
Tanyakan embun di pagi buta!
Adakah perihal lain, yang lebih sempurna dari kepercayaan akan mentari,
yang merekah dari ufuk peraduannya?
Tanyakan di lubuk hatimu yang paling dalam!
Adakah perihal lain, yang lebih setia dan begitu percaya akan janji kedatanganmu, selain air mataku yang bermuara pada penantian yang tak pernah berujung sua.


Kediri, 15 Maret 2014


© 2014 by W.U. Widiarsa. All rights reserved

Tuesday, February 25, 2014

Jangan Berdiri di Makamku dan Menangis!

Jika esok adalah hari terakhirku
Jangan biarkan tangis yang melepas kepergianku
Rindukanlah aku
Sekarang hingga kita tak bertemu

Aku tidak akan menangis.
Kuseka sudut-sudut mataku yang basah berair, kuhela napas panjang dan memberanikan diri menarik lengannya. Lidahku terasa kelu. Begitu dingin suasana itu, padahal di luar sana langit nampaknya berwarna biru. Jemariku kaku, terasa beku. Aku menatapnya ragu-ragu.
“Jangan menangis, aku masih di sini. Aku takkan pergi!”
Jemarinya yang hangat menyibak-nyibak rambutku, sambil sesekali ia menghujam kening dan tanganku dengan ciumannya. Air matanya mendesak keluar. Aku tahu, ia sudah tak kuasa menahannya. Gemetar tanganku mengusap rambutnya, berusaha menenangkannya. Tapi rasanya percuma, rasa takut sudah merambat di tiap jengkal pikirannya.
Aku membuang muka. Melirik tiap detik yang terus berlalu, terus berputar bersama sang waktu. Andai aku bisa memutar waktu, kuhindari kejadian itu. Aku tersenyum tipis padanya, memberikan sepucuk surat dan kotak berwarna merah. Tak ada salahnya memberikan hadiah untuk seseorang yang selama tiga tahun berhasil menggurat berbagai macam warna di hariku.
“Jangan dibuka sekarang, nanti malam saja ketika kamu sudah berada di rumah.”
“Apa ini? Aku tidak butuh hadiah saat ini! Yang aku butuh kamu!”
Kudengar nadanya tinggi, bercampur isak pedih yang begitu terasa menyayat hati. Ia memelukku erat sekali, begitu lekat hingga kurasakan hangat. Andai kau tahu, aku juga tak ingin kehilanganmu, aku tak ingin pergi meninggalkan kalian semua yang aku cintai.
Tak ada yang bisa kulakukan lagi. Seandainya pun mata ini masih sanggup membelalak lagi, dan jantung kan berdenyut kembali, namun aku akan jadi seonggok daging yang menghitung mundur hari demi hari menanti kematian menjemput lagi. Kakiku sudah tak bisa dilangkahkan lagi, tanganku takkan pernah berbuah uang lagi. Tak ada guna bukan? Justru aku yang akan membuat beban dalam kehidupanmu, seperti benalu yang tumbuh di inang, hidupmu takkan tenang.
Aku tidak akan menangis.
“Tiap pertemuan selalu berujung perpisahan bukan? Berkali-kali kata ini sering kita jumpai.”
“Sudah jangan bicara yang tidak-tidak. Kita tidak akan berpisah,” ucapnya sambil tersedu-sedu.
“Perpisahan ini bukan karena ketidak cocokan kita, melainkan campur tangan Tuhan di dalamnya. Mungkin suatu saat nanti kau bisa dapatkan yang lebih baik daripada aku,” kataku menimpalnya.
“Tidak. Aku tidak butuh orang lain. Aku mau kamuu!”
“Tenanglah sayang, aku tidak akan pergi. Aku tidak akan pernah tertidur. Aku akan selalu jadi angin yang berhembus menyejukkanmu. Aku akan jadi bintang-bintang yang menghiasi malam, dan kala kau bangun saat pagi akulah burung-burung yang terbang dengan ringan dan cepat. Percayalah aku tidak mati. Jangan menangis,” aku berbisik pelan di telinganya.
“Sekarang pulanglah, hari sudah larut malam. Besok pagi jemput aku lagi, kutunggu di sini. Ingat jangan kau buka surat dan kotak itu sebelum sampai rumah.”
Ia bertahan memaksa untuk tinggal, hingga akhirnya adikku yang berhasil membujuknya.
Jam berdentang tepat tengah malam. Aku sudah tak sanggup tuk bertahan. Mataku nanar menahan air mata. Pandanganku memudar. Sesekali napasku mulai tersengal.
“Raga, nak bangun nak ini ibu. Bangun nak!” Ibu berteriak sambil terisak.
“Suster! Suster! Tolong, panggilkan dokter!” Terdengar suara ayah samar-samar di telingaku.
“Ibu, maafkan aku sudah terlalu banyak merepotkanmu dan ayah. Jangan menangis, aku tak apa.”
Aku tersenyum sebisanya.
“Terimakasih. Ayah, Bu.”


Sementara di luar sana Dhika adikku, tengah mengantar Mery menuju rumahnya. Seperti dugaanku, Mery takkan punya cukup kesabaran untuk membuka apa isi kotak dan suratku. 

Untuk kekasihku Mery...
Sayang,  saat kau baca surat ini, tentu kau sedang tak bersamaku. Saat kau baca surat ini dan kau dapati aku sudah tak di sisimu lagi, jangan menangis! Namun jika Tuhan berkehendak lain maka bersukacitalah, menangislah dengan haru dan peluklah aku.
Kuucapkan terimakasih sebelumnya untukmu, yang tiap pagi sudah menjelma jadi mentariku dan kala malam menyapa, kau nyaru jadi rembulan. Terimakasih sudah mengenalkanku pada hidup warna-warni, mengajarkanku memperpanjang rasa sabar dan menelan pahitnya rasa rindu yang tak tertahankan.
Tahukah kamu mengapa aku selalu senang menyelidiki tingkah lakumu? Menelanjangi tiap sudut kepribadianmu? Atau hanya sebatas melempar senyum ke arahmu saat aku membaca mata dan bibirmu? Ya, aku senang melakukan itu, dan tak pernah jemu. Aku hanya ingin mengenal sosokmu, yang kulihat berbeda dengan sosok yang lainnya. Aku hanya ingin berjaga-jaga merekam semua bayang parasmu di memoriku, takut-takut kalau waktu dan ruang menyembunyikanmu. Aku tak bisa melihatmu lagi.
Saat kutulis surat ini, yang terbias dalam inginku hanya satu. Kau tahu semua rasaku, mungkin tadi ketika aku bersamamu aku mati kutu, mulutku sudah bisu. Aku tak mengerti apa yang kan kuucapkan padamu. Jika nanti aku benar akan mati, aku hanya ingin menyampaikan satu pesan kepadamu. Jangan pernah menyalahkan siapapun atas kematianku ini, atau bahkan lelaki yang tak berhati-hati mengemudikan laju mobilnya, hingga harus terjadi semua ini. Biarlah aku pergi, relakan aku kembali kepadaNya yang empunya seluruh nafasku ini.

Jangan berdiri di atas makamku dan menangis.
Aku tak ada di sana aku tak tertidur
Aku adalah ribuan angin yang berhembus
Aku adalah kristal yang berkelip di atas salju
Aku adalah sinar mentari pada gandum yang ranum
Kala kau bangun dalam heningnya pagi
Aku adalah hujan yang begitu lembut di musim gugur
Aku adalah burung-burung yang diam mengitari membentuk lingkaran     dengan gerakan ringan dan cepat
Aku adalah bintang-bintang yang menghiasi gelapnya malam
Jangan berdiri di atas makamku, dan jangan menangis
Aku tidak di sana. Aku tidak mati.

Sayang, untukmu juga kusertakan sebuah kotak yang berisikan cincin. Tadinya cincin itu akan kukenakan melingkar di jari manismu, apa dikata takdir berbicara lain. Simpanlah. Aku mencintaimu.

Tak berselang lama nada dering sms dari handphone Dhika berbunyi. Satu pesan dari Ayah terpapar di layar.
Cepat kembali. Kakakmu sudah berpulang untuk selamanya.


NB : Cerpen ini merupakan pengembangan dari puisi seorang penyair yang bernama Mary Elizabeth Frye, “Do Not Stand At My Grave and Weep”

Do Not Stand at My Grave and Weep
Do not stand at my grave and weep
I am not there. I do not sleep.
I am a thousand winds that blow
I am the diamond glints on snow
I am the sunlight on ripened grain
I am the gentle autumn rain
When you awaken in the morning’s hush
I am the swift uplifting rush
Of quiet birds in circled flight
I am the soft stars that shine at night
Do not stand atmy grave and cry
I am not there. I did not die.


Kediri, 2014

© 2014 by W.U. Widiarsa. All rights reserved

Monday, February 03, 2014

Cinta Mat(er)i

Ia bahagia dalam pikirannya. Senyum selalu mampu terurai lepas dari bibirnya. Sari, wanita yang sudah setahun ini menemani setiap perjalanan langkah kakinya dan berhasil mengakhiri masa lajang yang ia miliki. Dion, nampaknya sudah benar-benar mampu meluluh lantahkan benteng kokoh hati yang Sari miliki. Sari selama ini dikenal sebagai wanita pemilih dalam mencari pasangan. Bagaimana tidak, Sari adalah seorang model cantik yang namanya sudah merayap hingga sudut-sudut  kota. Sudah banyak deretan laki-laki yang rela mengantri hanya untuk memilikinya, mulai dari yang masih muda hingga para tua-tua keladi tak ingin kalah saling bersaing mendapatkannya. Sangat beruntung, Dion bisa memilikinya. Menurut orang.

Dion sangat mencintai Sari. Sangat. Berbagai macam cara ia lakukan hanya sebatas ingin mengembangkan satu senyuman di bibir Sari. Apapun diturutinya. Tak masalah tentunya, Dion seorang konglomerat yang membawahi beberapa perusahaan ternama di beberapa kota dan belum lama ini Dion telah berhasil mengembangkan sayapnya dalam bisnis property.  Umurnya juga masih cukup muda, 27 tahun, terpaut lebih tua satu tahun ketimbang Sari. Wanita mana yang tak mau bersuamikan lelaki muda yang kaya raya, paras mungkin di urutan kedua. Siapa peduli?

Kecupan hangat dan mesra Sari, mendarat di kening Dion.

“Udah lama Mas nunggunya? Maaf sesi pemotretan hari ini agak molor.”

“Iya nggak apa-apa. Aku juga baru beberapa menit yang lalu tiba, terus rebahan sambil nonton tv.”

Kini jari-jari mungil milik Sari berjalan berpindah tempat, menuju pundak Dion, memijat-mijatnya.

“Mas, kemarin-kemarin kan Mas janji, katanya mau beliin aku mobil baru. Kapan?”

“Iya, secepatnya. Tunggu kalau kamu udah punya waktu luang. Ok?”

“Makasih Mas.”

Sari tersenyum bahagia. Bahagia sekali.

“Jangan senang dulu, aku juga punya permintaan.”

Sari terdiam.

“Jangan pernah tinggalkan aku, jangan pernah duakan aku. Aku terlalu mencintaimu. Aku tak ingin kehilanganmu. Apapun yang kau mau akan kuusahakan terpenuhi, asal kau tetap di sampingku.”

Sari menganngguk tanda ia mengerti. Sari memeluknya erat sekali, seakan mengucapkan terimakasih sembari mengucapkan janji setianya.

Dion sadar selama ini semua yang ia dapat tidak gratis. Kebahagiaan, kepedulian, perhatian dan bahkan kasih sayang yang bertahun-tahun lalu ia dapatkan secara cuma-cuma dari kedua orangtuanya, kini ia harus membelinya. Baginya ini bukan sebuah masalah, daripada ia tak bisa mendapatkan setetes pun rasa sayang untuk melegakan jiwa yang dahaga akan jamahan cinta. Dalam pikirannya, ia terus bergumam tentang perihal cara agar Sari tak akan meninggalkannya, bagaimana Sari bisa bahagia dan nyaman bersamanya. Dan kadang Dion pun pernah sesekali berpikir, apakah dulu kedua orangtuanya juga mengalami ini?  Apakah semua orang di luar sana seperti ini? Yang satu memberikan cinta dengan sepenuh hati, sedang yang satu mencari materi sebagai imbalan untuk mencintai. Siapa peduli? Sudah lama cinta berjalan seperti ini. Cinta, mati tanpa materi.

Malang, 2014



© 2014 by W.U. Widiarsa. All rights reserved

BONEKA SI NONI PENUNGGU WISMA TUA

Wisma Tumapel, sebuah sebutan yang diberikan oleh kebanyakan orang di sini, setidaknya nama itulah yang tertera di sebuah papan putih besar di depannya. Entah apa arti dari namanya tak ada yang tahu. Sebuah Wisma tua yang sudah berdiri sejak pemerintahan kolonial belanda tepatnya tahun 1928. Masih berdiri kokoh hingga saat ini, tentunya dengan gaya arsitektur belanda kala itu. Lokasinya tepat di samping Pemerintahan kantor Walikota Malang, Jawa Timur.
Kebanyakan orang berkata bahwa Wisma ini adalah salah satu tempat yang cukup mistis, bagiku ini adalah Wisma dengan pemandangan berkarakteristik yang sangat eksotis. Memang bangunan ini tak berpenghuni lagi sejak berpuluh-puluh tahun silam, dilakukan pemugaran saja tak pernah, hanya dipagari seng-seng hijau disekelilingnya. Namun dengan keunikan-keunikan dan cerita mistis yang ikut mendukung tetap berdirinya Wisma inilah, yang membuat namanya melambung dan menjadi salah satu icon di seantero Malang. Siapa yang tak kenal dengan Wisma Tumapel?
Aku adalah seorang fotografer dari Jakarta. Sudah dua hari ini aku dan rekan-rekanku berada di Malang. Kami menginap di Hotel yang tak jauh lokasinya dari Wisma Tumapel, cukup dengan jalan kaki kami sudah sampai, tak butuh waktu lebih dari sepuluh menit pula. Sudah dari tiga bulan lalu kami siapkan rencana ini matang-matang. Mulai dari survey lokasi, pemilihan para model, pemesanan Hotel dan menyiapkan akomodasi lainnya. Ini bukan event yang biasa buat kami, kami sedang mengikuti sebuah kontes fotografi nasional yang akan berakhir satu minggu lagi, dan kami harus memepersiapkan segala sesuatunya dengan matang. Juara merupakan target yang harus  kami kejar.
Waktu itu sekitar pukul sepuluh pagi hari. Kami ; seorang model, dua orang fotografer termasuk aku, dan seorang penata rias sekaligus merangkap perlengkapan – telah selesai menyantap menu sarapan yang telah disajikan dan kami bersiap menuju lokasi pemotretan. Ya, Wisma Tumapel.
Seorang penjaga Wisma Tumapel keluar menyambut kedatangan kami, dan tentu saja kami menjelaskan kedatangan dan tujuan kami datang ke Wisma ini. Beliau ramah meski wajahnya nampak sangar, menurutku. Entah orang ini yang sering disebut oleh kebanyakan orang sebagai “penunggu” entahlah. Satu pesan yang beliau berikan kepada kami.
“ Kalau di dalam jangan terlalu berisik ya Mas, jangan macam-macam atau aneh-aneh di dalam. Saya ada di luar kalau butuh apa-apa.”
Baru sampai di pelataran depan wisma ini kami disuguhkan suatu nuansa yang menimbulkan kesan vintage tersendiri, atau mungkin ngeri untuk sebagian orang. Wisma ini warnanya kusam. Cat di dinding mulai pudar dan mengelupas. Lumut-lumut menempel di beberapa bagian dinding yang lembap. Tumbuhan perdu serta semak belukar nampak tumbuh liar di sana. Kayu-kayu jendela dan daun pintu yang nampaknya juga sudah mulai lapuk di beberapa sudut, menambah kesan yang luar biasa di mataku. Perfect kataku mantap.
Rena, seorang model yang sudah tak diragukan lagi kemampuannya dalam dunia fashion. Fotografer profesional dan ternama di Indonesia pun pernah memakainya sebagai sasaran objek kameranya. Parasnya tak cantik, namun begitu manis. Kulitnya sawo matang, warna kulit yang elegan, warna yang cocok untuk tema yang kami ambil untuk pemotretan kali ini “Back to Vintage”. Lekuk tubuhnya sungguh sempurna, mata lelaki mana yang tak leleh, terpesona dibuatnya.
Belum jauh kaki kami melangkah dari pintu masuk menuju ruang utama. Rena, mendadak wajahnya berubah warna. Wajahnya pucat pasi. Matanya berkaca-kaca. Bibirnya membisu, tubuhnya seakan kaku. Sontak kami semua gelisah dibuatnya Sedang suara angin mulai menderit-derit menelusup dari celah-celah jendela. Kami berusaha menyadarkan Rena dari tatapan kosongnya.
“Ren, Ren kamu kenapa Ren?”
“Ren, halo Ren sadar Ren. Rena! Sadar Ren!!” kami berusaha meneriakinya. Tak mau kalah, tamparan-tamparan pelan mendarat di pipi halusnya.
“Wuuuuuaaaaa!!!”
“Hahaha ketipu semuanya. Kenapa, kalian semua takut ya? Kok kayak mau nangis gitu?” ucap Rena sambil mengeluarkan tawa puasnya.
“Gila kamu Ren. Gak lucu tau.” ucap Sandy kesal.
“Ini bukan waktunya buat bercanda Ren. Inget kita punya target yang harus di kejar, gak ada waktu buat bercanda. Ngerti kamu?” umpatku kesal sembari menyiapkan lensa-lensa yang harus kugunakan.
“Iya maaf.” Katanya sambil menahan tawa.
“Udah, puas kan kamu ngerjain kita? Sana pake tuh make up kamu!.”
“Wen, tolong kamu siapin tuh kostum sama aksesoris yang dibutuhin sama si Rena.”
Setelah kami rasa pengambilan gambar di pekarangan depan dan ruang utama sudah cukup, kami lanjutkan pengambilan berikutnya di lantai dua Wisma ini. Setelah menaiki anak tangga yang kira-kira berjumlah kurang lebih dua puluh sampai tiga puluh  anak tangga, kami di sambut sebuah lorong yang lumayan panjang namun sempit. Di samping kanan ada beberapa ruang kosong, mirip seperti lorong sebuah penginapan. Sedang di sebelah kiri, kami bisa melihat pemandangan di luar melalui kaca-kaca jendela yang cukup besar ; mulai dari pekarangan samping hingga jalan raya di seberang sana. Lorong ini gelap, tak ada lampu, hanya sinar mentari yang berhasil menerobos masuk dalam ruang inilah satu-satunya sumber penerangan kami.
Rena menangis. Air matanya perlahan jatuh, membasahi pipinya. Eyeshadow hitamnya luntur. Lagi-lagi tubunya kaku. Tatapannya tajam, seakan ingin mengatakan sesuatu.
“Ren, udah Ren. Nggak lucu tau. Jangan bercanda lagi.” ucap Sandy ketus, acuh tak mau tahu. Ia tetap melanjutkan membidikkan kameranya ke tiap sudut bagian wisma ini.
“Iya Ren, udah ah jangan bercanda lagi kamu. Ayo kita lanjut lagi, biar cepet kelar, kita semua juga udah capek Ren. Kita semua laper.” tukasku cukup kasar. Mataku berusaha menelanjangi tiap sudut ruang wisma ini, mencari apa yang sebenarnya ditatap oleh Rena.
Braak!
“Renaa! Sandy, Widi,  tolong bantuin.” Wendy sontak menjerit karena kaget. Rena pingsan.
Doa-doa dipanjatkan oleh sang penjaga wisma. Kami hanya bisa diam memandang tubuh Rena yang terkulai lemas. Ia baru siuman, sebotol air mineral diteguknya.
“Kamu nggak apa- apa Ren? Kamu kenapa?” tanyaku cemas, melihat tubuhnya yang lemas.
“Sudah, nggak apa-apa Mas. Ini Mbaknya mungkin kecapekan aja. Sebaiknya sekarang pulang dulu aja, istirahat dulu.” Penjaga itu coba menasehati kami. Namun tak ada satu kata pun untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
Terpaksa pemotretan kali ini kami pending lebih dulu. Tak mungkin dilanjutkan juga. Rena masih terlihat tak berdaya, tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Hari juga sudah mulai sore, sungguh tak terasa. Nampaknya aku yang sedikit agak kecewa. Karena aku punya ambisi, aku terobsesi menjadi pemenang tahun ini.
Aku berjalan di belakang mereka. Dari luar rumah, aku berusaha melihat ke arah jendela yang terbuka tepat dimana si Rena tiba-tiba pingsan. Mataku terperanga. Sosok gadis jelita ada di sana. Rambutnya pirang mengombak. sebuah topi giant hat sun cokelat muda dengan hiasan pita putih di samping, bertengger di kepalanya. Warna  matanya biru, sebiru air laut di perairan yang dalam. Senyumnya sungguh mempesona. Bergaun merah muda berenda-renda. Direngkuhnya dengan kedua tangannya sebuah boneka, tak jelas boneka apa. Digendongnya boneka itu layaknya seorang bayi kecil yang butuh kasih sayang dari Ibunya. Kemudian cairan kental, terlihat hitam keluar perlahan dari matanya. Wanita itu menangis. Jantungku mulai berdegup tak karuan. Kubuang pandangan mataku ke punggung Sandy, Rena dan Wendy yang berada di depanku.  Siapa dia? Rasanya tak ada orang lain lagi selain kami yang berkunjung ke sini. Atau mungkin itu istri dari sang penjaga wisma ini? Meski hati tak ingin, tapi mata ini tetap tergoda tuk menengok kebelakang lagi. Sosok wanita itu lenyap, hanya ruang gelap yang kosong yang ada dalam penglihatanku. Aku tak percaya hal-hal yang mistis, dan andai itu benar aku tak akan mempercayainya. Mungkin aku terlalu lelah, aku butuh istirahat. Aku akan tutup mulut. Mungkin saja aku penglihatanku yang salah, aku tak ingin pemotretan ini gagal hanya karena mitos-mitos yang belum jelas kepastiannya.
Keesokan harinya kami kembali. Kembali dengan langkah yang pasti dengan stamina dan semangat yang sudah terisi lagi. Senyum sudah nampak merekah di bibir Rena. Rena tak mengatakan apapun tentang kejadian yang ia alami kemarin. Ia tak ingat apa-apa katanya. Kami pun tak berusaha mencari tahu. Kali ini doa kami panjatkan sebelum masuk Wisma dan memulai aksi pengambilan gambar.
Lantai dua. Lorong sempit, tempat Rena kemarin pingsan. Di sini kami akan mengambil gambar lagi, setelah kemarin kami tak mendapat satu gambar apapun dari Rena selain gambar-gambar ruang kosong  tanpa penghuni. Ya lagi-lagi kami hanya berempat, tak ada pengunjung lain. Padahal sering kudengar wisma ini sering dijadikan objek atau latar pengambilan gambar. Ya mungkin hanya kebetulan, pikirku.
Aku dan Sandy menyiapkan tripod yang akan kami gunakan. Wendy sibuk mencari alat-alat rias dalam tas hitam yang cukup besar. Rena, mencoba masuk dalam satu ruang kosong yang ternyata pintunya tidak dikunci. Sebuah boneka bayi perempuan, dengan gaun merah muda yang cukup lusuh seta rambut berwarna pirang kehitaman karena debu, kini ada di tangannya. Aku terkejut melihatnya.
“Ren, itu boneka siapa? Kamu dapet dari mana?” suaraku menceracau. Aku ragu, bukankah boneka itu yang kemarin aku lihat bersama seorang wanita? Aku masih tak percaya.
“Aku dapet dari dalem situ. Tergeletak di lantai.”
“Kembaliin Ren. Udahlah jangan aneh-aneh lagi. Aku males tau ah kalau kayak gini.” Sandy nampak geram, umpatnya dengan penuh amarah yang meluap-luap.
Aku berusaha menenangkan mereka.
Braak! Braaak! Braaak! Suara hantaman pintu serta jendela yang menutup secara bersamaan membuat kami terkejut. Kami terdiam. Tak ada angin yang berhembus, mungkin ada orang di bawah. Kami mencoba tetap tenang. Suara itu terdengar dari ruang bawah. Kami berkumpul, tubuh kami merapat, tangan kami berpegang erat. Jari-jari kami basah oleh keringat yang mengucur dingin. Degup jantung kami yang berdetak semakin kencang terdengar begitu jelas. Suara ketukan terdengar perlahan. Kami semua mendengarnya. Bukan, bukan ketukan. Itu suara yang dihasilkan dari sepatu high heel ketika menapak, ya itu suara langkah kaki.
“Siapa di sana? Halo, ada orang di sana?” teriak Sandy memecah keheningan.
Tiba-tiba seekor kucing hitam muncul dari anak tangga. Ia hanya mengeong, tatapannya tajam menatap ke arah kami. Kami pikir ia ingin mengucapkan sesuatu.
“Haaaaaaaaaaa!!” Rena menjerit ketakutan sambil melempar boneka perempuan yang tadinya ada dalam pelukannya. Boneka itu terlempar keluar jendela.
“Kenapa Ren?” Wendy memeluknya, Wendy berusaha menenangkannya.
“Itu, boneka itu..”
“Iya, bonekanya kenapa?” Aku berusaha menangkap apa yang sebenarnya ingin Rena sampaikan. Ucapan Rena terbata-bata, suaranya parau karena menahan isak.
“Boneka itu matanya menyala. Bibirnya bergerak-gerak. Boneka itu mengucapkan sesuatu.”
Suasana kini berubah. Angin dingin menyelimuti sekujur tubuh kami. Bulu-bulu di leher kini mulai berdiri. Kucing hitam tadi menghilang. Kami lari sekuat daya yang ada, meninggalkan wisma ini dengan terbirit-birit.
Malam ini juga kami putuskan kembali ke Jakarta. Kami menyewa sopir. Kami pikir - kami tidak akan sanggup untuk membawa mobil ini sendiri setelah kejadian tadi. Pikiran kami masih melayang, pikiran kami meracau sungguh kacau. Ketakutan menghantui kami sepanjang perjalanan. Tubuh kami lelah, mata kami pun sebenarnya sudah tak kuasa tuk menahan kantuk, tapi kami masih terbayang-bayang oleh kejadian tadi. Hingga resah berhasil mematahkan rasa kantuk yang ada.
Aku mulai angkat bicara, menceritakan apa yang sebenarnya kulihat setelah kami meninggalkan Wisma Tumapel, di hari sewaktu Rena pingsan. Mereka tak kuasa menahan amarah, segala umpatan kini melayang ke arahku. Tepat seperti dugaanku, mereka semua pasti akan menyalahkanku. Hanya lidah Rena yang nampaknya kelu, lagi-lagi ia diam seribu bahasa. Matanya memejam, nampaknya ia kelelahan setelah lebih dari dua jam air matanya berlinangan.
“Oh, Masnya habis dari Wisma Tumapel to?” suara si sopir menengahi pembicaraan kami.
“Iya pak. Ada apa pak?” tanyaku berusaha menggali sebuah penjelasan.
“Itu biasa Mas. Yang Sampean lihat itu mungkin si Noni Belanda yang jadi penunggu rumah itu. Ya, benernya kalau Mas-masnya nggak macem-macem di sana, nggak ganggu ya nggak apa-apa kok Mas. Mungkin si Noni mau kenalan” jelasnya sambil terkekeh.
“Noni?” Wendy mengernyitkan dahi.
Noni bukanlah sebuah nama, melainkan sebuah sebutan yang diberikan oleh orang-orang Jawa, untuk wanita berambut pirang, atau wanita asing dari luar negeri.
“Kami nggak macem-macem pak di sana. Kami cuma ngambil foto.” sahut Sandy.
“Atau mungkin Masnya, masuk ruang-ruang yang pintunya tertutup ya?”
“Emang kenapa pak? Gak boleh ya?”
“Ya mitosnya sih seperti itu Mas.”
Kami mulai berpikir, otak kami berputar mengingat apa yang kami lakukan di sana. Kami saling bertatapan satu sama lain. Nampaknya kami sependapat. Kami layangkan pandangan kami ke arah Rena, yang posisinya duduk di belakang bersandingan denganku.
Betapa terkejutnya aku. Rena tak ada. Hanya sebuah boneka tua yang usang tergolek di sana. Matanya mengeluarkan darah, bibirnya bergerak ke atas ke bawah. Di genggamanya ada sepotong jari telunjuk yang berlumuran darah. Jari telunjuk Rena, aku mengenalinya dari kutek warna cokelat yang ada di kukunya. Boneka itu menoleh ke arahku, ia tersenyum. Aku menjerit ketakutan. Mobil kehilangan kendali, si sopir membanting setir ke kanan. Ia berusaha menghindari seorang wanita bergaun renda-renda berwarna merah muda.
Hanya nama kami yang berhasil selamat. Nama kami terukir di halaman pertama koran nasional. Nyawa kami meregang di dasar sebuah jurang.

Malang, 2013


© 2014 by W.U. Widiarsa. All rights reserved