Monday, January 26, 2015

Surat Cinta untuk Monday FlashFiction


Teruntuk MFF kesayangan,

Salam hangat dariku untukmu. Di hari berbahagia ini, mungkin aku tak bisa memberikanmu sesuatu yang lebih selain sebuah ucapan. Ucapan ulang tahun tentunya. 

Ya, meski belum lama tinggal tapi aku sudah merasa memilikimu. Jadilah rumah yang kokoh bagi kami. Rumah yang selalu melahirkan orang-orang luar biasa. Rumah yang tak hanya sekadar tempat singgah, namun sebagai rumah untuk belajar dan berkarya bersama. Rumah yang menyatukan kami tak hanya sebagai rekan tapi juga keluarga.

Semoga tetap menjadi rumah sederhana, namun membuat nyaman penghuninya. Semoga panjang umur dan sukses selalu. Sekali lagi kuucapkan selamat ulang tahun rumah kesayanganku, Monday FlashFiction. 

With love,
 

Widiarsa
 
 
Kediri, 26 Januari 2014 
Posted on by Unknown | 5 comments

Monday, January 19, 2015

Pria yang Setia


Aku mengecup keningnya, lembut. Menyibak rambutnya, penuh rasa cinta. Matanya masih memejam. Begitu dalam. Mungkin ia masih enggan pulang – sibuk bermain-main bersama peri-peri dalam mimpinya.

“Selamat pagi,” kugambar senyum tipis di bibirku, “ kubuatkan sarapan dulu untukmu, Sayang.”

Sarapan sudah siap. Sepotong roti bakar dengan selai kacang sebagai isiannya, lengkap dengan segelas susu murni sudah tersaji di atas meja. Barangkali, aku memang diciptakan sebagai pria yang penuh perhatian. Suami yang romantis. Aku menggendong tubuhnya dari tempat tidur menuju  meja makan. Mungkin, sekali lagi karena aku adalah pria yang romantis.

“Makanlah! Selagi hangat,” kataku mesra penuh harap.

Kugunakan garpu dan sebilah pisau, untuk memotong roti di hadapannya. Aku menyuapinya. Aku suami yang pengertian. Perlahan bulir-bulir air jatuh di atas piringku. Deras.

“Aku mencintaimu,” tanganku bergetar. Sendok, garpu, potongan roti – semuanya jatuh pun hatiku, pun air mataku. Deras sekali.

Lima tahun bukanlah waktu yang pendek dalam membangun rumah tangga. Meski masih belum sempurna, tanpa buah hati di dalamnya. Aku begitu mencintainya. Aku bahagia bersamanya, berharap selamanya. Namun segalanya telah berubah. Sejak leukimia itu terus menggerogotinya.

“Perlu suntikan formalin lagi, Sayang?” tanyaku, sembari berusaha tegar dan tersenyum sesekali. Aku tak mau istriku ikut sedih.

Dengan begini aku masih bisa melihatnya. Secara nyata, setidaknya.

 NB ; 
* Jumlah kata 200 belum termasuk judul.
*Terinpirasi lagu ( The Script - The Man Who Can't Be Moved )
I know it makes no sense
But what else can I do
How can I move on
when I'm still in love with you
~

Kediri, 19 Januari 2015




Wednesday, January 14, 2015

#FFRabu - Terbunuh Rindu



Sudah lebih dari lima tahun, kau tak pulang ke Desa. “Lebaran tahun ini aku harus pulang,” katamu. Anak dan istrimu sudah mengharapkan kepulanganmu. 

Upahmu sebagai buruh bangunan di Kota tak seberapa. Sebulan sekali, lewat Kantor Pos kau mengirim surat beserta sebagian upahmu untuk kebutuhan mereka.

Tapi kerasnya hidup di Kota mulai membuatmu putus asa. Gaji tak seberapa, belum lagi didera rindu keluarga yang kian menyiksa.

Tak seperti biasa, kulihat dirimu setiap hari rajin ke Kantor Pos. Kau membawa kotak-kotak paketan berbalut selotip cokelat. Mungkin kau sudah banyak duit sekarang.

         “Ini yang terakhir,” katamu sembari memberikan kardus yang berisi kepalamu sendiri.




#FF100Kata
Kediri, 14 Januari 2014

Wednesday, January 07, 2015

Malam Kepulangan



Tak ada yang lebih resah daripada aku
Duduk di kursi depan sendiri
Di dalam bus malam yang melaju dengan kecepatan tinggi

Tak ada yang lebih gelisah daripada aku
Pulang dari perantauan
Menahan kantuk yang melelahkan
Takut kalau-kalau kebablasan

Tak ada asongan-asongan yang menjajakan makanan
Tak ada pengamen-pengamen yang meminta recehan
Hanya ada dengkur penumpang-penumpang yang kelelahan
Hanya ada dengung klakson yang memekakkan

Tak ada preman bukan? Atau bajingan?
Bukan kehilangan uang yang aku khawatirkan
Takut kalau-kalau, ia merampas semua ingatan
Sebab di sana ada kenangan yang aku selipkan

Tak ada yang lebih ingin aku simpan
Selain rute kepulangan
Tiap bepergian,
Segala tentangmu aku jadikan patokan
Sebab dirimu  ialah tujuan
Sebab dirimu rumah teduh dalam sebuah pelukan


Aku pulang ....


Jogjakarta - Kediri, 7 Januari 2015
Posted on by Unknown | No comments

Tuesday, December 23, 2014

LUNAS



 Sumber: Monday Flash Fiction

      Kuceritakan padamu, sebuah kisah tentang nyawa dan keadilan yang bisa dibeli oleh orang kaya, yang bisa menggunakan hartanya semena-mena.
            Tepatnya setahun lalu. Seorang laki-laki pemilik perusahaan terkemuka di Negeri ini, dibebaskan dari tuduhan yang menimpanya. Hukuman maksimal 12 tahun penjara atau denda paling banyak Rp 24.000.000 yang telah diatur dalam UU LLAJ pasal 311 ayat 5, kandas begitu saja; dengan alasan si korban yang salah, pindah lajur tanpa memberikan kode.
            Jelas sekali malam itu para Polisi dan penyidik menyatakan bahwa laki-laki itu positif mengonsumsi minuman beralkohol kadar tinggi. Bagaimana mungkin dia bisa lolos jika bukan karena uang?
            Giliran si korban yang kuceritakan. Sebagai seorang suami, Pardi, berusaha mencukupi kebutuhan istrinya yang tengah mengandung. Pardi tak kenal lelah mengayuh sepeda tuanya mengais rezeki menjadi buruh serabutan. Apapun dikerjakan demi lembar-lembar rupiah sebagai persiapan lahirnya si jabang bayi. 
            Malam itu, malam terakhirnya. Kini istrinya yang harus banting tulang, demi susu si buah hati yang lahir tanpa kasih seorang bapak.
---
Sebuah New Mazda2 hijau meluncur keluar dari sebuah rumah mewah. Seorang laki-laki dengan setelan berdasi duduk di depan kemudi, di sampingnya seorang anak perempuan berseragam putih merah sedang menikmati sepotong roti.
            Hampir sebulan kuhabiskan waktuku; duduk termenung, mengamati gerak-gerik lelaki itu dari seberang jalan. Aku hafal tiap detail kapan dia akan pergi atau pulang, kecuali jika ada kepentingan yang mendadak.
            “Malam ini tak boleh gagal,” kataku menyeringai.
---
            Sudah tengah malam, jalanan mulai nampak lengang. Menunggu laki-laki itu pulang sungguh amat melelahkan. 
            “Itu dia.” Aku hafal desingan suara mesin mobilnya. Aku mulai berjalan perlahan. Menyeberang.
            Tiiinnn!! Suara klakson panjang memecah keheningan sesaat sebelum mobil itu menghantam tiang listrik dengan keras.
            “Meong,” kataku sambil melompat ke bagian kap mobil yang ringsek akibat benturan; serta penuh dengan serpihan kaca dan cipratan darah. Pilihan terlahir kembali sebagai kucing hitam ini ternyata tak sia-sia. Dendamku lunas.

(FF 300 kata, dengan tema "REINKARNASI")



 Kediri, 23 Desember 2014



Tuesday, December 16, 2014

JUDI



“Ayo, pasang lagi taruhanmu! Waktu masih panjang, kita akan main sampai pagi.”

Lima buah kartu remi tertelungkup di lempar oleh bandar di depanku. Tujuh orang lelaki paruh baya duduk melingkar di atas sebuah karpet, salah satunya aku. Setiap hari, beginilah cara kami bersenang-senang menghabiskan separuh malam. 

Sementara anak – istri kami terlelap di rumah, kami sibuk memasang taruhan sambil menenggak beberapa botol minuman oplosan. Tak hanya untuk sekedar membunuh bosan, namun sudah menjadi kebiasaan. Alih-alih ronda malam, Poskamling kami jadikan lapak perjudian.

Putaran ke delapan, aku mulai gelisah. Jantungku berdetak tak karuan. Mungkin malam ini aku sedang dirundung kesialan, belasan kartu masih ada dalam genggaman.

Kini Sang bandar sudah bersiap dengan sepucuk senapan. Inilah permainan yang kami biasa lakukan, nyawa sebagai taruhan. Maka seringkali akan kau dengar dalam berita, korban-korban berjatuhan dalam pesta minuman orang-orang pinggir kota. Sekali lagi kujelaskan, jika aku mati nanti; bukan karena oplosan, tapi kalah taruhan.

“Doorrr!!” 
Sebuah peluru melesat menembus kepalaku. Aku meregang sekali lagi. Ini masih permainan pembukaan, nyawaku tinggal satu. Semua tertawa terutama Sang bandar, nyawanya masih sembilan.

(FF 174 kata)
NB: dikembangkan dari fiksimini @rantingmu JUDI- Baru permainan pembukaan, nyawaku tinggal satu.


Kediri, 16 Desember 2014

© 2014 by W.U. Widiarsa. All rights reserved